Showing posts with label Kisah - Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah - Kisah. Show all posts

Wednesday, September 17, 2014

Mencintai Anak (Kisah Mulia Dua Orang Anak Kecil)

Mencintai Anak (Kisah Mulia Dua Orang Anak)

Di suatu daerah, tinggallah sebuah keluarga nan harmonis dan rukun. Sepasang suami istri, dua anak, dan seorang ibu dari suami yang juga nenek dari dua anak tersebut. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana. Tidak ada perkelahian antara dua anak tersebut. Begitu pula dengan kedua pasang suami istri. Sementara sang ibu, menikmati masa tua dengan bahagia bersama cucu-cucunya.

Dan di suatu hari pula, dua anak tersebut berlari menentang tas rangsel mereka, pulang dari sekolah dengan wajah gembira. Di tangan mereka ada dua kertas yang dipegang erat-erat seakan tidak ada yang boleh mengambilnya. Setelah sampai dirumah, mereka berlari menemui ibu untuk menunjukkan isi yang ada dalam kertas tersebut.

“Ibu…! Nilai ulangan Asmira dapat 100!” anak pertama melapor.

“Nilai Dina juga 100, Bu!” anak kedua juga melapor.

Si ibu, dengan segenap kebahagiaan yang ada dalam hatinya, mengembangkan tangannya memanggil dua anaknya kepelukannya. Dan dengan berlari, sang anak memeluk ibunya yang langsung menciumi kedua anak tersebut.

Walhasil, berita suka cita tersebut terdegar oleh sang bapak di malam hari ketika baru pulang dari kantornya. Dengan perasaan senang, sang bapak menjanjikan liburan keluar kota untuk merayakan keberhasilan dua anak tercintanya. Semua anggota keluarga setuju, tidak terkecuali nenek dua anak tersebut yang semakin memasuki usia renta.

Tanggal untuk berlibur telah ditetapkan. Tujuan pun telah ditentukan. Namun, apa asa, sang nenek yang telah tua renta tiba-tiba mendadak sakit. Penyakitnya kambuh dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Si Bapak bingung. Di satu sisi, ia berposisi sebagai anak yang harus membahagiakan Ibunya dengan menjaganya ketika sakit. Dan di sisi lain, ia bertindak sebagai bapak yang harus membahagiakan anak-anaknya dengan liburan. Namun, hidup adalah pilihan. Dan dia harus memilih akibat biaya yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan keduanya.

Akhirnya di suatu malam. Dengan perasaan yang sedih. Ia mengajak kedua anaknya untuk membicarakan masalah penundaan liburan. Ada perasaan tidak enak dihatinya ketika, di awal janji liburan dahulu, ia mengetahui bahwa anak-anaknya sangat berbahagia ketika ia mengajak mereka berlibur. Tapi apa daya, perawatan ibu harus didahulukan. Dan tentunya akan berakibat pada liburan yang harus ditunda bahkan dibatalkan.

“Nak! Nenek sedang sakit dan membutuhkan biaya yang besar untuk perawatannya. Sementara, bapak tidak punya uang lebih. Liburan yang telah kita rencanakan itu dibatalkan dulu ya? Nanti ketika bapak sudah punya uang, kita akan liburan. Ok?” Ujar sang bapak dengan perasaan sedih di hatinya karena ia tahu perasaan anak-anaknya.

Tidak ada jawaban dari kedua bibir anaknya beberapa saat. Si Bapak pun tidak berani memaksakan kehendaknya hingga akhirnya kedua anak tersebut berlari kekamar mereka masing-masing. Bertambahlah kesedihan yang ada dalam diri sang Bapak terhadap apa yang dirasakan oleh dua buah hatinya yang tersayang.

Belum hilang rasa sedih yang ada dalam benak sanubari sang bapak ketika kedua buah hatinya keluar dari kamarnya. Namun yang terlihat adalah, di kedua tangan kedua anaknya tersebut, celengan tabungan berbentuk ayam. Kedua anak tersebut mendekati sang bapak seraya berkata.

“Pake aja uang Asmira untuk kesembuhan nenek, Pak!”
 “Uang Dina juga!”

*******************************************
Cintailah anak atau generasi penerus, setidaknya, itu yang harus di pahami bersama. Karena merekalah yang kelak akan membacakan sejarah-sejarah perjuangan generasi masa kini ataupun generasi terdahulu. Merekalah yang melanjutkan perjuangan-perjuangan dan pekerjaan-pekerjaan yang generasi sebelumnya.

Oleh : Radinal Mukhtar

Sumber : Nomor 1

Jazakallah...............

Read more

Air Mata Mutiara (Sebuah Pesan Moral)

Air Mata Mutiara (Sebuah Pesan Moral)

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.

"Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu."

Si ibu terdiam sejenak, "Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukannya kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengilap, dan berharga mahalpun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara, air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

Pesan moral :
Cerita di atas adalah sebuah paradigma yang menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa". Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa".Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki : yaitu menjadi “kerang biasa” yang disantap orang atau menjadi “kerang yang menghasilkan mutiara”. Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja'.Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka. Karena orang-orang di sekitar kita. Cobalah untuk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan di dalam hatimu... "Airmataku diperhitungkan Tuhan.. dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara yang berharga."......Read More


Sumber : Nomor 1

Semoga Bermanfa'at
Jazakallah

Read more

Tuesday, September 16, 2014

Yang Terbaik Yang Akan Datang

Yang Terbaik Yang Akan DatangApakabar sahabat-sahabatku. Allah selalu memberikan yang terbaik kepada kita semua, terbaik dari apa yang kita butuhkan, bukan yang kita mau, karena Allah selalu tau apa-apa yang akan kita butuhkan nanti, esok, lusa, minggu depan dan selamanya. Terkadang jalan yang kita lalui yang kita tidak bisa memahaminya. 

Kita selalu saja mengeluh dan berfikir bahwa Allah tidak adil kepada kita karena ujian-ujiannya selama ini, kita selalu menghujat Allah dengan kata-kata yang tidak pantas untuk diucapkan atau di utarakan melalui hati, fikiran, ucapan-ucapan dan tindakan kita. 

Bersyukur, ya...dengan ini kita akan merasakan begitu indah dan nikmatnya hidup ini, Bersyukur karena Allah masih memberikan nikmat hidup kepada kita, lantaran ini kita masih bisa memperbaiki diri dan memperbanyak amal ibadah untuk bekal kita kelak menghadap-Nya. bersyukur atas banyak nikmat yang ia berikan setiap saat kepada kita, atas nikmat sehat, pekerjaan, makanan, kemewahan, jabatan, anak, istri, pakaian, mobil mewah, motor dan kendaraan serta masih banyak nikmat lain, yang tanpa pernah kita sadari kita lalai untuk mensyukurinya. 

Kenapa kita harus menyalahkan Allah? Apakah hal ini pantas? Ia berhak atas segala sesuatu yang ada didunia ini, kita semua milik-Nya, kita adalah hamba-hamba-Nya, kita hidup atas kehendak-Nya, bukan atas kehendak kita, kita semua hidup diatur oleh-Nya, bukan kita yang mengaturnya. Segala sesuatu yanga da didunia ini tidaklah kekal dan semua adalah titipan dan akan kembali kepada Allah, pantaskah kita mengeluh dan menyalahkan-Nya ketika sesuatu yang dititipkan atau diberikan kepada kita di ambil oleh-Nya?  Kita ini hanya sibuk memikirkan hawa nafsu kita, sehingga ketika sesuatu yang hilang dari kita, kita menyalahkan Allah. 

Berikut ini ada sebuah kisah tentang seorang wanita yang mempunya dua anak kecil, sedangkan suaminya kena PHK. Hampir saja ia putus asa, Tapi kemudian ia berdoa untuk mendapatkan yang terbaik untuk suami dan keluarganya. semoga kisah ini memberikan kita pelajaran yang baik untuk kita semua. 


Kisah Seorang Wanita Yang Suaminya Pengangguran.
Wanita tersebut bernama Yane.

Dua tahun lalu, suami Yane, adalah Beni kehilangan pekerjaannya karena kena PHK. Hal ini menyebabkan rasa bagi yane dan suaminya karena pekerjaannya tersebut sangat menjanjikan. Selama 6 tahun, Beni sangat menikmati pekerjaannya di sebuah perusahaan distribusi multinasional untuk produk perawatan kulit. Namun karena perubahan struktur organisasi yang terjadi dalam perusahaan tersebut (yang sering terjadi di banyak perusahaan belakangan ini), ia di-PHK.

Yane memutuskan untuk bercerita tentang hal ini kepada kedua anaknya yang masih kecil walaupun itu sangat menyedihkan, kedua anaknya tersebut adalah Gabriel (6 tahun) dan Marga (4 tahun). Ia bercerita dengan sangat pelan-pelan kepada kedua anaknya tersebut. "Anak-anak, kita harus menjaga baik barang-barang kita…dan kita juga tidak boleh boros…karena ayah sekarang tidak punya pekerjaan lagi."

Gabriel kecil berkata, "Maksud ibu, ayah dipecat?" Yane terkejut mendengar kata-kata yang kasar tersebut. "Di mana kamu belajar tentang kata itu?!" Puteranya menjawab tanpa berbelit-belit, "Dari Peter Parker – Spiderman."

Tapi ya, PHK hanya merupakan kata yang lebih baik dari "Keluar, kami tidak lagi membutuhkanmu di sini." Kehilangan pekerjaan adalah selalu menyakitkan, sekalipun jika dibarengi dengan "pesangon". Di satu sisi Yane bersyukur atas "rejeki nomplok" itu, tapi di sisi lain Yane kuatir, sambil berfikir berapa lama keluarga mereka akan hidup dengan bergantung pada pesangon yang diberikan perusahaan suaminya itu.

Beberapa bulan pertama semua berjalan dengan baik. Beni suami yane mencoba mencari pekerjaan dan menerima panggilan dua panggilan interview rata-rata setiap minggu. Namun beberapa bulan menjadi setahun – dan terus berlanjut, panggilan interview semakin sedikit dan jarang.

Selama hampir dua tahun suaminya menganggur, Yane melalui kegelisahannya sendiri. Sebagai seorang ibu dari dua anak usia sekolah, ia melihat tabungan mereka yang semakin menipis. (Sebagai ukuran, ia pindah dari pekerjaan yang sudah ditekuninya selama 8 tahun, ke pekerjaan yang lebih tinggi bayarannya.)

Tapi di samping dana yang semakin berkurang, ia juga kuatir akan harga diri Beni. Bukan karena Beni tidak mencoba, namun kelihatannya memang tidak banyak kesempatan kerja bagi pria berumur dengan latar belakang dan pengalaman seperti yang dimiliki Beni. Sebenarnya ada dua pekerjaan yang ia terima, tapi keduanya hanya bertahan sebentar. Sebut saja sebuah konflik kepribadian atau ketidak-cocokan, tapi Beni tidak dapat melihat dirinya bekerja lama di sana. Dengan marah, Beni akan keluar lagi.

Dan pernikahan mereka pun mengalami kesulitan, karena sekarang Yanelah yang memberi penghasilan bagi keluarga. "Akankah ego suami saya bertahan selama ini?" ia terus dan terus bertanya pada dirinya sendiri. Semakin waktu berlalu, ia semakin dan semakin kuatir akan Beni.

Yane mulai bertanya pada Tuhan, "Tuhan, saya tidak mengerti apa lagi yang Engkau sedang ajarkan pada kami! Bagaimana lagi kami harus berdoa? Apa lagi yang harus kami doakan?"

Itulah saat ketika Yane menyadari bahwa doa mereka harus lebih spesifik.

Maka ia mengumpulkan kedua anaknya dan berkata, "Mari berdoa bagi ayah, agar ia dapat menemukan suatu pekerjaan yang baik dengan seorang atasan yang baik – seseorang yang seperti atasannya di perusahaan yang dulu."

Suatu hari, sekitar setahun lalu dari hari ini, Yane pulang dari kerja dan melihat kedua anak dan suaminya sedang berdempetan sambil membungkuk. "Ada apa ini?" tanyanya.

Ia mendengar anak-anaknya berbisik dengan gembiranya, "Tunjukkan pada ibu sekarang!"

Beni menyodorkan sebuah amplop coklat padanya. Yane pikir itu adalah sesuatu dari sekolah anak-anak.

Tapi ternyata bukan. Dengan perlahan ia menarik keluar secarik kertas dari amplop itu, ia membaca nama perusahaan, kemudian jabatan suaminya dan gajinya. Sampai di sini, ia mengangguk puas.

Namun ketika ia sampai ke bagian bawah kertas tersebut, ia kaget setengah mati. Karena ada sebuah tanda tangan. Tanda tangan milik atasan favorit Beni!

Diiringi tatapan heran anak-anaknya, Yane mulai menangis dan tertawa pada saat yang bersamaan. Ia sangat sulit untuk mempercayai hal ini!

Seperti seorang anak, ia melompat-lompat karena bahagia, dan begitu juga kedua anaknya pun ikut bahagia dan tertawa serta mengikuti ibunya melompat-lompat.

Kemudian Gabriel bertanya pada ibunya, "Ibu, mengapa engkau menangis dan tertawa pada saat yang bersamaan?"

Yane kemudian menjelaskan kepadanya, "Ibu menangis karena ibu begitu bahagia nak. Ingatkah bagaimana kamu berdoa agar ayah mendapat pekerjaan dan atasan yang baik? Lihatlah nama ini," ia menunjuk kertas yang masih ia pegang. "Kita hanya meminta seorang atasan yang seperti atasan ayah yang dulu. Tapi, Tuhan memberi ayah seorang atasan yang persis sama! Ia menjawab doa-doa kita!"

Saat itulah Gabriel mulai menangis.
"Mengapa kamu menangis?" tanya Yane.


"Karena aku juga sangat bahagia," kata anak kecil itu, kemudian seluruh keluarga saling berpelukan……Read More  


Sumber : Nomor 1.com

Semoga bermanfa'at
Jazakallah

Read more

Monday, September 15, 2014

Kenapa Kita Harus Membaca Al-Qur'an Setiap Hari (Kisah)

Salam sahabat, dan semoga Rachmat Allah senantiasa dilimpahkan kepada kita semua terutama yang membaca tulisan singkat ini. 

Terkadang kita sebagai hamba yang mengaku islam, tak jarang, atau mungkin ada yang tidak pernah membaca Al-Qur'an dalam 1 hari walaupun satu ayat saja. Yang menjadi pertanyaan untuk kita adalah, kita ini mau kemana? Lalau kitab (pentunjuk) acuan hidup kita apa? Kalau buku petunjuknya saja tidak kita baca....

Berikut ini ada sebuah kisah, kisah yang singkat Tentang Seorang kakek yang mengajarkan betap pentingnya membaca Al-Qur'an. Semoga kisah ini dapat membuka mata hati kita semua, dan dapat memberikan manfa'at untuk kita semua yang membacanya. Aamiin.


Kenapa Kita Harus Membaca Al-Qur'an Setiap Hari (Kisah)


" Aku Ingin Seperti Kakek "

Seorang Muslim tua Amerika bertahan hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky dengan cucu lelakinya yg masih muda.

Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Quran di meja makan di dapurnya. Cucu lelakinya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya.

Suatu hari sang cucunya bertanya, ” Kakek! Aku mencoba untuk membaca Al-Qur’An seperti yang engkau lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupa secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Al-Qur’An? Dengan tenang sang Kakek dengan meletakkan batubara di dasar keranjang, memutar sambil melobangi keranjangnya ia menjawab, ”Bawa keranjang batubara ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air.”Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya.

Kakek tertawa dan berkata, “Lain kali kamu harus melakukukannya lebih cepat lagi, ”Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tersebut untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap saja keranjangnya kosong sebelum ia tiba didepan rumah. Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakeknya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah dibolongi, maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya.Sang kakek berkata, ”Aku tidak mau ember itu, aku hanya mau keranjang batu bara itu. Ayolah, usaha kamu kurang cukup", maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu.

Cucunya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakeknya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah.

Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang sudah kosong lagi. Sambil terengah-engah ia berkata, “Lihat Kek, percuma!”

“Jadi kamu pikir percuma?” Jawab kakek.

Kakek berkata, “Lihatlah keranjangnya.”

Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu telah berubah dari keranjang batubara yang tua kotor dan kini bersih, luar dalam.

“Cucuku,” ujar si kakek kemudian, “hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca Al-Qur’an. Kamu tidak bisa memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika kamu membacanya lagi, kamu akan berubah luar dalam. Itu adalah karunia dari Allah di dalam hidup kita.” 



Salam Ukhuwah & Semoga Bermanfaat
Jazakallah

Read more

Friday, September 12, 2014

Sebuah Benih (Kisah Inspirasi)

Semoga bermanfaat untuk kita semua, semoga menjadi bekal untuk kita menuai berkah dalam hidup dijalan Allah...
Sebuah Benih (Kisah Inspirasi)

" Sebuah Benih "

Suatu ketika, ada sebuah pohon yang rindang. Dibawahnya, tampak dua orang yang sedang beristirahat. Rupanya, ada seorang pedagang bersama anaknya yang berteduh disana. Tampaknya mereka kelelahan sehabis berdagang di kota. Dengan menggelar sehelai tikar, duduklah mereka dibawah pohon yang besar itu.
Angin semilir membuat sang pedagang mengantuk. Namun, tidak demikian dengan anaknya yang masih belia. "Ayah, aku ingin bertanya..." terdengar suara yang mengusik ambang sadar si pedagang. "Kapan aku besar,  Ayah? Kapan aku bisa kuat seperti Ayah, dan bisa membawa dagangan kita ke kota?

"Sepertinya, lanjut sang bocah, "aku tak akan bisa besar. Tubuhku ramping seperti Ibu, berbeda dengan Ayah yang tegap dan berbadan besar. Kupikir, aku tak akan sanggup memikul dagangan kita jika aku tetap seperti ini." Jari tangannya tampak mengores-gores sesuatu di atas tanah. Lalu, ia kembali melanjutkan, "bilakah aku bisa punya tubuh besar sepertimu, Ayah?

Sang Ayah yang awalnya mengantuk, kini tampak siaga. Diambilnya sebuah benih, di atas tanah yang sebelumnya di kais-kais oleh anaknya. Diangkatnya benih itu dengan ujung jari telunjuk. Benda itu terlihat seperti kacang yang kecil, dengan ukuran yang tak sebanding dengan tangan pedagang yang besar-besar. Kemudian, ia pun mulai berbicara.

"Nak, jangan pernah malu dengan tubuhmu yang kecil. Pandanglah pohon besar tempat kita berteduh ini. Tahukah kamu, batangnya yang kokoh ini, dulu berasal dari benih yang sekecil ini. Dahan, ranting dan daunnya, juga berasal dari benih yang Ayah pegang ini. Akar-akarnya yang tampak menonjol, juga dari benih ini. Dan kalau kamu menggali tanah ini, ketahuilah, sulur-sulur akarnya yang menerobos tanah, juga berasal dari tempat yang sama.

Diperhatikannya wajah sang anak yang tampak tertegun. "Ketahuilah Nak, benih ini menyimpan segalanya. Benih ini menyimpan batang yang kokoh, dahan yang rindang, daun yang lebar, juga akar-akar yang kuat. Dan untuk menjadi sebesar pohon ini, ia hanya membutuhkan angin, air, dan cahaya matahari yang cukup. Namun jangan lupakan waktu yang membuatnya terus bertumbuh. Pada mereka semualah benih ini berterima kasih, karena telah melatihnya menjadi mahluk yang sabar.

"Suatu saat nanti, kamu akan besar Nak. Jangan pernah takut untuk berharap menjadi besar, karena bisa jadi, itu hanya butuh ketekunan dan kesabaran."


Terlihat senyuman di wajah mereka. Lalu keduanya merebahkan diri, meluruskan pandangan ke langit lepas, membayangkan berjuta harapan dan impian dalam benak. Tak lama berselang, keduanya pun terlelap dalam tidur, melepaskan lelah mereka setelah seharian bekerja.


Sumber : Nomer 1

Semoga Bermanfa'at
Jazakallah





Read more

Thursday, September 11, 2014

Kisah Seorang Ibu Dan Anak Sandaran Masa Depan

Sandaran Masa Depan

Kisah Seorang Ibu Dan Anak " Sandaran Masa Depan "

Alkisah, ada seorang anak yang bertanya pada ibunya, “Ibu, temanku tadi cerita kalau ibunya selalu membiarkan tangannya sendiri digigit nyamuk sampai nyamuk itu kenyang supaya ia tak menggigit temanku. Apa ibu juga akan berbuat yang sama?”



Sang ibu tertawa dan menjawab terus terang, “Tidak. Tapi, Ibu akan mengejar setiap nyamuk sepanjang malam supaya tidak sempat menggigit kamu atau keluarga kita.”

Mendengar jawaban itu, si anak tersenyum dan kembali meneruskan kegiatan bermainnya. Tak berapa lama kemudian, si anak kembali berpaling pada ibunya. Ternyata mendadak ia teringat sesuatu. “Terus Bu, aku waktu itu pernah dengar cerita ada ibu yang rela tidak makan supaya anak-anaknya bisa makan kenyang. 

Kalau ibu bagaimana?” Anak itu mengajukan pertanyaan yang hampir sama.

Kali ini sang Ibu menjawab dengan suara lebih tegas, “Ibu akan bekerja keras agar kita semua bisa makan sampai kenyang. Jadi, kamu tidak harus sulit menelan karena melihat ibumu menahan lapar.”

Si anak kembali tersenyum, dan lalu memeluk ibunya dengan penuh sayang. “Makasih, Ibu. Aku bisa selalu bersandar pada Ibu.”

Sembari mengusap-usap rambut anaknya, sang Ibu membalas, “Tidak, Nak! Tapi Ibu akan mendidikmu supaya bisa berdiri kokoh di atas kakimu sendiri, agar kamu nantinya tidak sampai jatuh tersungkur ketika Ibu sudah tidak ada lagi di sisimu. Karena tidak selamanya ibu bisa mendampingimu.”

Ada berapa banyak orangtua di antara kita yang sering kali merasa rela berkorban diri demi sang buah hati? 

Tidak sadarkah kita bahwa sikap seperti itu bisa menumpulkan mental pemberani si anak?

Jadi, adalah bijak bila semua orangtua tidak hanya menjadikan dirinya tempat bersandar bagi buah hati mereka, melainkan juga membuat sandaran itu tidak lagi diperlukan di kemudian hari. Adalah bijak jika para orangtua membentuk anak-anaknya sebagai pribadi mandiri kelak di saat orangtua itu sendiri tidak bisa lagi mendampingi anak-anaknya di dunia.


Orangtua akan selalu jadi sandaran anaknya ketika masih kecil hingga mungkin sudah berkeluarga, namun apakah anak bisa jadi sandaran orangtua ketika ia sudah mulai menua? Renungkanlah ...




Sumber : Mario Teguh

Semoaga Bermanfa'at....Jazakallah..


Read more

Kisah Seorang Ibu Dan Anak

Kisah Seorang Ibu Yang Dibenci Anaknya Karena Buta Sebelah

Kisah Seorang Ibu Dan Anak


Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku membencinya, ia adalah sebuah hal yang memalukan. Ibuku menjalankan sebuah toko kecil pada sebuah pasar.

Dia mengumpulkan barang-barang bekas dan sejenisnya untuk dijual, apapun untuk mendapatkan uang yang kami butuhkan. Ia adalah sebuah hal yang memalukan.

Pada suatu hari di sekolah. Aku ingat saat itu hari ketika ibuku datang. Aku sangat malu. Mengapa ia melakukan hal ini kepadaku? Aku melemparkan muka dengan rasa benci dan berlari. Keesokan harinya di sekolah.. “Ibumu hanya memiliki satu mata?” dan mereka semua mengejekku.

Aku berharap ibuku hilang dari dunia ini maka aku berkata kepada ibu aku,”Ibu, kenapa kamu tidak memiliki mata lainnya? Ibu hanya akan menjadi bahan tertawaan. Kenapa Ibu tidak mati saja?” Ibu tidak menjawab. Aku merasa sedikit buruk, tetapi pada waktu yang sama, rasanya sangat baik bahwa aku telah mengatakan apa yang telah ingin aku katakan selama ini.
Mungkin itu karena ibu tidak menghukum aku, tetapi aku tidak berpikir bahwa aku telah sangat melukai perasaannya.

Malam itu, Aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku menangis disana, dengan pelan, seakan ia takut bahwa ia akan membangunkanku. Aku melihatnya, dan pergi. Karena perkataanku sebelumnya kepadanya, ada sesuatu yang mencubit hati aku.



Meskipun begitu, Aku membenci ibuku yang menangis dari satu matanya. Jadi, Aku mengatakan diri ku jikalau aku akan tumbuh dewasa dan menjadi sukses, karena aku membenci ibu bermata-satu aku dan kemiskinan kami.

Lalu aku belajar dengan keras. aku meninggalkan ibu dan ke Seoul untuk belajar, dan diterima di Universitas Seoul dengan segala kepercayaan diri. Lalu, aku menikah. aku membeli rumah milikku sendiri. Lalu aku memiliki anak-anak juga. Sekarang, aku hidup bahagia sebagai seorang pria yang sukses. aku menyukainya disini karena ini adalah tempat yang tidak meningatkan aku akan ibu.

Kebahagiaan ini menjadi besar dan semakin besar, ketika seseorang tidak terduga menjumpai aku “Apa?! Siapa ini?”… Ini adalah ibu aku.. tetap dengan satu matanya. Ini rasanya seperti seluruh langit sedang jatuh ke diri aku. Anak perempuan aku lari kabur, takut akan mata ibu aku.

Dan aku bertanya kepadanya, “Siapa Anda? aku tidak mengenalmu!!” sandiwara aku. aku berteriak kepadanya “Mengapa engkau berani datang ke rumah aku dan menakuti anak aku! Pergi dari sini sekarang juga!”

Dan ibu dengan pelan menjawab, “Oh, maafkan aku. aku pasti salah alamat,” dan dia menghilang. Terima kasih Tuhan.. Ia tidak mengenali aku. aku merasa cukup lega. aku mengatakan kepada diri aku bahwa aku tidak akan peduli, atau berpikir tentang ini sepanjang sisa hidup aku.
Lalu ada perasaan lega datang kepada aku.. Suatu hari, sebuah surat mengenai reuni sekolah datang ke rumah aku. aku berbohong kepada istri aku mengatakan bahwa aku akan pergi perjalanan bisnis. Setelah reuni ini, aku pergi ke rumah lama aku.. karena rasa penasaran saja, aku menemukan ibu aku terjatuh di tanah yang dingin. Tetapi aku tidak meneteskan satu air mata sekalipun. Ia memiliki sepotong kertas di tangannya.. dan itu adalah surat untuk diri aku.
========================================================================
Anakku,
Aku pikir hidupku sudah cukup lama saat ini. Dan.. aku tidak akan mengunjungi Seoul lagi.. tetapi apakah itu terlau banyak jikalau aku ingin kamu untuk datang menunjungiku sekali-kali nak? aku sangat merindukanmu. Dan aku sangat lega ketika mendengar kamu akan datang dalam reuni ini.

Tetapi aku memutuskan untuk tidak datang ke sekolah.. Untuk Kamu.. aku meminta maaf jikalau aku hanya memiliki satu mata dan aku hanya membawa kemaluan bagi dirimu.

Kamu tahu, ketika kamu masih sangat kecil, kamu terkena sebuah kecelakaan, dan kehilangan satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tidak tahan melihatmu harus tumbuh dengan hanya satu mata.. maka aku memberikanmu mata aku.. aku sangat bangga kepada anak aku yang melihat dunia yang baru untuk aku, menggantikan aku, dengan mata itu.

Aku tidak pernah marah kepadamu atas apapun yang kamu lakukan. Beberapa kali ketika kamu marah kepada aku. aku berpikir sendiri,”Ini karena kamu mencintai aku.” Aku rindu waktu ketika kamu masih sangat kecil dan berada di sekitarku.

========================================================================


Kasih ibu sepanjang waktu, tak kenal batas waktu ...

Jazakallah....Semoga Bermanfa'at
Sumber : Mario Teguh


Read more

Tuesday, September 9, 2014

Kisah Si Dermawan yang Dicaci (Dihina)

Ada sebuag pepatah yang mengatakan yaitu “Jika Tangan Kanan Memberi, Tangan Kiri Jangan Sampai Tahu” sepertinya menjadi barang langka dalam kehidupan nyata. Yang terjadi malah sebaliknya, mereka berlomba-lomba memberikan derma demi sebuah harapan popularitas semata. Namun, kisah berikut ini mungkin bisa menjadi kisah menarik yang bisa diambil hikmah terbaiknya.

Kisah Si Dermawan yang Dicaci 


Kisah Si Dermawan yang Dicaci (Dihina)



Tersebutlah disana, disebuah kampung kecil, terdapat 2 orang bernama Haji Imron dan Haji Rais. Kediaman mereka berdekatan sekali sehingga mereka sering ngobrol bersama. Walau rumah mereka berdekatan tapi nasib mereka berbeda cukup jauh. Haji Imron dikenal sebagai warga yang cukup kaya karena memiliki warisan sawah yang cukup banyak dan luas. Sementara Haji Rais hanyalah petani biasa yang sederhana.

Namun demikian, ternyata di mata masyarakat, nama Haji Rais lebih harum dan dihargai oleh masyarakat dibandingkan dengan haji Imron. Haji Imron mendapatkan panggilan yang sangat tidak terhormat yaitu SI PELIT, sedangkan Haji Rais mendapatkan panggilan yang sangat mulia dan terhormat yaitu Si DERMAWAN.


Mengapa Haji Imron dipanggil si Pelit, ternyata setelah diselidiki, dia sangat jarang sekali membantu bila warga meminta sumbangan ke beliau baik untuk pembangunan masjid, jalan dan ketika ada orang sakit atau untuk bantuan bagi fakir miskin. Saking pelitnya, untuk bantuan biaya kegiatan maulid nabi pun, ia hanya bisa membantu 5.000,- rupiah saja. “Mohon maaf saya nggk bisa bantu banyak ya”, ujarnya beralasan.


Hal ini berbeda jauh, ketika warga mendatangi kediaman rumah Haji Rais. Biasanya di tidak banyak basa-basi dan langsung memberinya sumbangan. Jumlah sumbangannya biasanya cukup besar, bahkan bisa melebihi yang diminta terutama untuk kepetingan masjid dan fasilitas umum lainnya.


Waktu terus berjalan, hingga akhirnya SI PELIT, Haji Imron secara mendadak meninggal dunia. Tak banyak warga yang ikut mensholatkannya. Kepergiannya seakan tak pernah ditangisi oleh warga, bahkan beberapa warga berkomentar sinis, “Wajarlah Si Pelit mati duluan, makanya jangan jadi orang pelit. Lihat tuh Haji Rais yang Dermawan, panjang umur”.


Semenjak kematiannya, nama Haji Imron terus dipergunjingkan warga karena kepelitannya. Bahkan beberapa warga sampai tega meludahi makam Haji Imron yang memang berada di pinggir jalan. Mereka berjalan melewati kuburan sambil mengumpat,”Dasar orang Pelit, Penghuni Neraka“. Dimanapun mereka berkumpul, tak ketinggalan mereka menjelek-jelekkan nama Haji Imron dengan segala umpatan yang ketus.


Melihat realitas ini, sepertinya Haji Rais merasa terganggu dan sedih sekali, mengapa warga terus menjelek-jelekkan nama Haji Imron padahal beliau sudah meninggal dunia. Apalagi semakin hari sepertinya semakin menjadi-jadi, dan sering mengaitkan dan membandingkannya dengan dirinya.


Akhirnya, seusai sholat Jumat, secara mendadak dia berdiri dan meminta para jamaah sholat Jumat untuk tidak pulang terlebih dahulu karena ada hal amat sangat penting yang perlu disampaikannya. Mendengar pengumuman itu, para jamaah pun kaget dan bertanya Tanya, ada apa gerangan yang terjadi. Salah satu jamaah berkata, “Wah ada pengumuman apa nih, kok serius sekali, soalnya tumben dan belum pernah terjadi”.


Akhirnya yang ditunggu tiba. Haji Rais tiba-tiba berdiri dan menuju podium. Dengan suara parau dan terbata-bata menahan emosi yang amat sangat, dia memulainya.


“Para jamaah jumat yang saya muliakan. Berdirinya saya disini, sungguh sangat berat karena harus menyampaikan sesuatu yang tidak boleh saya sampaikan. Namun demi kebaikan dan kemaslahatan semua, akhirnya saya harus tampil dan menyampaikan kebenaran ini”.


“Haji Imron telah meninggalkan kita semua, namun kepergiannya telah meninggalkan kesan dan pesan kebencian yang amat sangat. Saya mendengar banyak warga yang membencinya karena kepelitannya, hingga meludahi makamnya, dan mengumpatnya dengan ahli neraka. Sungguh saya tidak rela hal tersebut dilakukan karena di luar batas kepantasan”.


Beberapa jamaah pun secara spontan berguman ,”huuuuuuhhhhhhhhh”. Setelah cukup tenang, Haji Rais pun melanjutkan kalimatnya.


“Hari ini, saya Haji Rais, atas nama Allah dan Rasul Muhammad, menyatakan bahwa sesungguhnya semua sumbangan dan amal yang warga terima selama berpuluh-puluh tahun adalah HARTA DAN PEMBERIAN SERTA TITIPAN dari Haji Imron. Haji Imron lah penyumbang terbesar berdirinya masjid ini. Haji Imron lah penyumbang terbesar, jalan utama desa kita ini. Haji Imron lah penyumbang terbesar bagi anak-anak yatim dan dhuafa. Haji Imron lah yang menyumbang kegiatan keagamaan setiap tahunnya. Saya, Haji Rais, hanya dititipi oleh beliau. Haji Imron tidak mau, semua amal, sedekah dan sumbangan serta kebaikannya diketahui orang lain”.


Mendengar pengakuan Haji Rais ini, semua jamaah jumat, tercengang dan terdiam sejenak. Sesaat kemudian, suara tangisan menggema di seantero masjid yang cukup besar itu. Terdengar teriakan,YA ALLAH YA ALLAH, ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR yang sangat kencang. Saat itu, hampir semua jamaah menangis tersedu-sedu tanda penyesalan yang amat sangat. Haji Rais pun melanjutkan kalimatnya.


“Para jamaah sekalian. Saya secara pribadi mohon maaf sebesar-besarnya karena selama ini saya diam dan tidak pernah menceritakannya. Hal ini karena Haji Imron berpesan agar saya tidak pernah menceritakannya kepada siapapun, perihal sumbangan dan amalnya ini kepada siapapun termasuk kepada keluarganya. Namun, karena hari ini, saya sudah tidak sanggup mendengar cacian dan umpatan para jamaah dan warga kepadanya maka dengan sangat terpaksa saya harus mengatakannya. Kepada yang terhormat Haji Imron yang sangat dermawan dan baik sekali, saya mohon maaf sebesar-besarnya”.


Haji Rais pun turun dari podium sambil menangis tersedu-sedu, karena tak kuasa menahan keharuan. Para jamaah pun masih larut dalam keharuan yang amat dalam. Keesokan harinya, atas inisiatif warga, digelar tahlilan mengenang wafatnya Haji Imron sang Dermawan yang Dicaci Maki. Hampir seluruh warga menghadiri tahlilan tersebut. Mereka benar-benar menyesal dan terharu atas sikap kedermawanan Haji Imron. Akhirnya nama Haji Imron dan keluarga kembali harum dan mendapat penghargaan yang sangat tinggi dari seluruh warga.


Semoga kisah ini bermanfaat dan menginspirasi kita untuk senantiasa berbuat kebaikan, tanpa mengharap pujian sedikitpun. Amien


Sumber : Kompasiana

Semoga bermanfa'at
Jazakallah
Read more

Friday, September 5, 2014

Kasih Ibu Tak Terbatas Waktu (Sebuah Kisah)

Semoga kisah ini bermanfaat untuk kita dan menyadarkan kita semua tentang kasih sayang ibu. Setelah baca kisah ini jangan lupa renungkan apa yang telah kita lakukan untuk ibu dan ayah kita. Sudah kah kita membahagiakan mereka? Sudahkah kita menghormati mereka?


Kasih Ibu Tak Terbatas Waktu (Sebuah Kisah)

" Kasih Ibu Tak Terbatas Waktu "


Seorang anak bertengkar dengan ibunya dan kemugian pergi meninggalkan rumah. Saat berjalan ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang. Ia melewati sebuah kedai bakmi. Ia ingin sekali memesan semangkok bakmi karena lapar.

Pemilik bakmi melihat anak itu berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu bertanya ”Nak, apakah engkau ingin memesan bakmi?”

“Ya, tetapi aku tidak membawa uang,” jawab anak itu dengan malu-malu.”Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu,” jawab si pemilik kedai.

Anak itu segera makan. Kemudian air matanya mulai berlinang.”Ada apa Nak?” Tanya si pemilik kedai.” 

Tidak apa-apa, aku hanya terharu karena seorang yg baru kukenal memberi aku semangkuk bakmi tetapi ibuku sendiri setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah. Kau seorang yang baru kukenal tetapi begitu peduli padaku.

Pemilik kedai itu berkata ”Nak, mengapa kau berpikir begitu? Renungkan hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu…. Ibumu telah memasak bakmi, nasi, dll sampai kamu dewasa, harusnya kamu berterima kasih kepadanya.

Anak itu kaget mendengar hal tersebut ”Mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu?”

Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal aku begitu berterima kasih, tetapi terhadap ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun,aku bahkan tidak peduli.

Anak itu segera menghabiskan bakminya lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika melihat anaknya, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Nak, kau sudah pulang, cepat masuk, aku telah menyiapkan makan malam.”

Mendengar hal itu, si anak tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis di hadapan ibunya.
Kadang kala kita berterima kasih kepada orang lain untuk suatu pertolongan kecil yg diberikannya pada kita. Namun kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita sering melupakannya begitu saja...

“Selagi kita masih memiliki orang tua jangan sampai kita menyakiti haitnya, kelak jika mereka sudah tiada kau akan mengerti bahwa orang tua sangatlah penting untuk kita”


Mari kita sama-sama merenungi apa saja yang sudah kita perbuat kepada kedua orang tua kita, lebih banyak mana antara membahagiakan mereka dengan membuat mereka menangis...

Semoga bermanfa'at
Jazakallah

Read more

Tuesday, September 2, 2014

Kisah Menepati Janji

Kali ini admin ingin share cerita-cerita inspiratif dari Pak Mario Teguh Sang Motivator Hebat Dari Indonesia. Semoga bermanfaat untuk kita semua, semoga menjadi bekal untuk kita menuai berkah dalam hidup dijalan Allah...


Seekor induk rusa ketika kedua anaknya sudah mulai belajar berjalan, pada pagi buta ketika kedua anaknya masih tidur, induk rusa keluar pergi mencari makanan, dia bermaksud setelah pulang dari mencari makanan akan mengajar anak-anaknya mencari makan serta menjaga diri menghindari dari bahaya.

Setelah mendapat makanan rumput hijau yang segar, saat perjalanan pulang dia terjebak dalam perangkap yang dibuat oleh pemburu. Induk rusa itu sambil menangis memikirkan kedua anaknya.

Pemburu akhirnya tiba, induk rusa berlutut memohon kepada pemburu membiarkannya pulang ke rumah memberi makan serta mengajari anaknya mencari makan, dia berjanji keesokkan harinya akan kembali  ke sini menyerahkan diri.

Pemburu melihat rusa ini dapat berbicara, didalam hatinya sangat terkejut dan gembira, dia  memutuskan akan mempersembahkan rusa ajaib ini kepada  raja, supaya dia menjadi terkenal dan mendapat hadiah dari raja. Tetapi setelah berpikir sejenak, dia berubah pikiran, melepaskan induk rusa pulang.
Induk rusa bergegas berlari pulang, suasana hatinya sangat sedih memikirkan kedua anaknya, setelah sampai dirumah dia berkata kepada kedua anaknya, “Anak ku, mama akan menceritakan sebuah kebenaran dan ketidakkekalan di dunia ini kepada kalian, jika kalian sudah memahami kebenaran ini, maka kelak jika kalian menghadapi masalah apa pun.”
“Kalian nantinya tidak akan terlalu sedih lagi. Kalian harus ingat hidup ini sangat singkat,  segalanya akan berubah tidak pernah abadi, nilai dari keluarga, kasih sayang semuanya tidak abadi….,” ujar induk rusa itu.

Anak-anaknya sambil menangis bertanya, “Lalu kenapa mama masih harus menepati janji kepada orang jahat tersebut?.” Induk rusa berkata, “Tanpa Iman, dunia akan hancur, tidak ada kejujuran dunia akan runtuh, demi kelangsungan dan harapan dunia, saya rela berkorban, daripada menipu orang lain. Mama rela mati demi integritas, dari pada menipu untuk hidup.”

Setelah selesai berkata sambil menahan tangisannya induk rusa berlari keluar, anak-anak rusa mengejar dengan sekuat tenaga. Pemburu melihat induk rusa memenuhi janjinya datang kembali, menjadi sangat terharu dengan tangan merangkap di depan dada dan berlutut dia berkata kepada induk rusa, “Engkau bukan seekor rusa biasa, engkau pasti jelmaan dari Budha.”

“Welas asihmu membuat orang sangat terharu, kejujuran dan imanmu membuat saya sangat malu. Silahkan engkau kembali, saya tidak akan menyakiti Anda lagi, bahkan mulai saat ini saya tidak akan menyakiti seekor binatang pun,” kata si pemburu itu....

Semoga bermanfa'at
Jazakallah....
Read more